Jumat, 30 Desember 2011

Acara IV INTERPOLASI TITIK KONTUR DAN MENGHITUNG KEMIRINGAN LERENG


ACARA IV
INTERPOLASI TITIK KONTUR DAN MENGHITUNG KEMIRINGAN LERENG

I.              Tujuan Praktikum
          Setelah melakukan Praktikum ini, diharapkan praktikan mampu :
a.         Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang interpolasi titik kontur dan kemiringan lereng.
b.        Mahasiswa dapat mengetahui cara menginterpolasi titik kontur
c.         Mahasiswa mampu menghitung nilai miringnya lereng melalui garis kontur

II.           Alat dan Bahan
a.         Alat
-          Alat Tulis menulis ( pulpen, mistar )
-          Kalkulator
b.        Bahan
-          Peta RBI
-          Kertas Gambar
-          Kertas Transparan
-          Kertas Grafik

III.        Prosedur Kerja
a.         Siapkanlah Peta RBI atau Peta Tematik
b.        Dengan memanfaatkan garis kontur, interpolasikanlah titik kontur
c.         Hitunglah nilai interpolasi titik kontur dari langkah (b) di atas
d.        Dengan memanfaatkan garis kontur, pilihlah salah satu area kontur untuk dihitung nilai kemiringan lerengnya.
e.         Hitunglah nilai kemiringan lereng dengan memanfaatkan komponen peta

IV.        Kajian Teori
Kontur
          Kontur adalah garis hubung antara titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal yang dibuat untuk menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Walaupun garis tersebut mengubungkan antara dua  titik,  namum bentuk dan  polanya  tidak  merupakan garis  patah-patah. Garis-garis tersebut dihaluskan (smoothing) untuk membuat kontur menjadi “luwes” atau tidak kaku. Hal ini diperbolehkan pada proses kartografi. Kontur ini dapat memberikan informasi relief, baik secara relative maupun absolute. Informasi relief secara relief ini diperlihatkan dengan menggambarkan garis-garis kontur secara rapat untuk daerah terjal, sedangkan untuk daerah yang landai dapat diperlihatkan dengan menggambarkan garis-garis tersebut secara renggang. Informasi relief secara absolute diperlihhatkan dengan cara menuliskan nilai kontur yang merupakan ketinggian garis tersebut diatas suatu bidang acuan tertentu. Bidang acuan yang umum digunakan adalah bidang permukaan laut rata-rata. Interval kontur ini sama dengan beda tinggi antara kedua kontur. Interval kontur sangat bergantung kepada skala peta juga pada relief daerah permukaan.







          Kontur mempunyai beberapa sifat, diantaranya adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1 : Sifat Kontur
No
Sifat kontur
Keterangan Gambar
1
Kontur tidak mungkin bercabang
2
Kontur       selalu       menutup        bentuknya. Menutupnya dapat di dalam muka peta ataupun     diluar.    Jika   menutupnya    diluar, maka  pada  muka  peta  terlihat  kontur  itu tidak menutup
3
Interval kontur dimaksudkan sebagai beda harga antara dua kontur yang terdekat

4
Daerah yang datar akan mempunyai kontur yang jarang.
5
Daerah yang terjal (curam) akan mempunyai kontur yang rapat.

6
Kontur tidak akan "masuk" bangunan atau rumah, tetapi mengikuti tepi dari bangunan tersebut
7
Kontur     yang    melewati/memotong    sungai akan membentuk huruf V arah pangkalnya, arah naik.
8
Kontur yang melewati/memotong jalan yang
turun akan membentuk huruf U menghadap ke arah naiknya jalan


          Garis kontur ialah garis khayal yang digambarkan pada daerah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama, di atas atau di bawah dataran tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami jika kita membayangkan sebuah kolam. Jika air benar-benar dalam keadaan tenang, tepi air akan berada pada ketinggian yang sama dengan sekeliling kolam, membentuk sebuah garis kontur. Jika air diturunkan 5 meter, tepi air akan membentuk garis kontur kedua. Penurunan ketinggian air selanjutnya akan menghasilkan garis kontur yang kontiniu dan tidak dapat bertemu atau berpotongan dengan garis kontur yang lain. Demikian jugagaris kontur ridak dapat membelah atau tidak dapat bergabung dengan garis kontur yang lain, kecuali pada batu karang atau daerah yang mengajur. Tanda pasang surut yang dibuat oleh air laut ialah garis kontur dengan nilai nol meter (Irvine, 1995).
http://www.crayonpedia.org/wiki/images/a/a5/Peta_Pola_Bntk_Bumi_2.jpg
          Salah satu metode yang digunakan dalam mengukur suatu luasan areal adalah metode kisi-kisi. Metode ini merupakan metode menghitung luas pada lembaran kalkir atau plastik transparan digambarkan garis memanjang dan melintang pada interval tertentu dan ditempatkan di atas gambar tersebut diatas garis-garis pembatas. Apabila garis memotong petakan-petakan maka bagiannya harus dibaca secara proporsional (Gayo, 2005).
          Interpolasi adalah cara untuk menentukan nilai diantara dua nilai yang telah tertentu harganya. Interpolasi yang paling sederhana dan sering digunakan untuk membuat kontur adalah interpolasi linear. Kontur merupakan produk (hasil) dari interpolasi. Interpolasi kontur dapat diartikan  sebagai cara mendapatkan harga kontur yang diinginkan dimana titik-titik di lapangan tingginya tidak tepat sama dengan harga kontur.
Kemiringan Lereng
          Lereng adalah kenampakan permukaan alam disebabkan adanya beda tinggi apabila beda tinggi dua tempat tersebut di bandingkan dengan jarak lurus mendatar sehingga akan diperoleh besarnya kelerengan ( clope ).
Selain untuk mengetahui kemiringan lereng, identifikasi tentang garis kontur juga dapat untuk mengetahui bentuk lereng. Berdasarkan bentuknya, lereng dapat berbentuk seragam, cekung, ataupun cembung. Lereng dapat pula berbentuk tegak lurus atau tebing, sehingga bila digambarkan menunjukkan garis kontur yang saling berimpit. Berikut ini contoh penggambaran ketiga bentuk lereng tersebut.







Gambar 8.3 Gambar kontur sejajar pada kemiringan lereng seragam.
 







Gambar 8.4 Gambar kontur yang makin rapat pada kemiringan lereng.






Gamabar 8.5 Gambar kontur yang makin renggang pada kemiringan lereng.
          Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan, misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. Jadi informasi ini sangat dibutuhkan untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. Biasanya pada topografi yang berbeda, yang berarti kemiringan lerengnya berbeda, maka perkembangan tanahnya juga berbeda. Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng, karena perbedaan arah lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah. Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah, kondisi drainase, jenis tanaman dan kedalaman tanah.
          Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tujuan pada klasifikasi tersebut. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi, misalnya, akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil, informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat, misalnya panjang lereng dan bentuk lereng.
          Bentuk Lereng tergantung pada proses erosi juga gerakan tanah dan pelapukan. Lereng merupakan parameter topografi yang terbagi dalam dua bagian yaitu kemiringan lereng dan beda tinggi relatif,  dimana kedua bagian tersebut besar pengaruhnya terhadap penilaian suatu lahan kritis. Bila dimana suatu lahan yang lahan dapat merusak lahan secara fisik, kimia, dan biologi, sehingga akan membahayakan hidrologi produksi pertanian dan pemukiman.
Dalam mengukur kemiringan lereng dapat di lakukan dengan cara :
-     Metode Blong ( 1972 )
-     Metode Wentworth
-     Metode Lingkaran dan
-     Menggunakan Kompas geologi
Kelas Kemiringan lereng antara lain :
-     Kelas I   = < 8%
-     Kelas II = 8-15%
-     Kelas III   = > 15-25%
-     Kelas IV= >25-45%
-     Kelas V = >45%

V.           Hasil dan Pembahasan
a.       Hasil
a)      Interval Kontur
Pada peta Lemito dengan skala 1: 50.000
Ditanya Ci ( kontur interval ) = .........?












b)      Interpolasi titik kontur
Judul Peta              : Peta Lemito
Skala                      : 1 : 50.000
Keterangan            :
B  = 785 mdpl
C  = 584 mdpl
B          C = 2,3 cm
B           A = 1,6 cm
Dibuat Oleh    :
Nama       : I MADE GDE WIRABUANA
Nim          : 451 410 008
Kelas        : Geografi C
Kelompok: III ( tiga )
Jurusan Fisika
Program Studi S1 Pendidikan Geografi
Fakultas Mipa
Universitas Negeri Gorontalo
2010

                      Ditanya   : A     = .............?
-              Penyelesaian =
-              Titik
c)        Kemiringan Lereng

b.      Pembahasan
        Mengamati peta RBI dan mencari interpolasi titik kontur dan menghitung kemiringan lereng.
       Peta RBI adalah peta yang menggambarkan kenampakan alamiah dan kenampakan buatan manusia. Contoh kenampakan alamiah misalnya sungai, bukit, lembah, danau dan lain-lain. Sedangkan kenampakan buatan manusia misalnya jalan, pemukiman, kantor, pasar, dan lain-lain.
Menentukan interval kontur
       Kontur interval adalah perbandingan antara jarak kontur yang berdekatan satu dengan yang lainnya. Untuk menentukan kontur interval peta RBI Lemito pada skala 1: 50.000
Dapat menggunakan rumus :
Menentukan interpolasi titik kontur :        
Adapun hasil kontur diatas di peroleh dengan cara mencari atau menentukan titik kontur interval pada peta RBI yang diamati. Yang disajikan sebagai patokan atau yang diukur yaitu pada titik ketinggian 584 sampai 785 mdpl, setelah dibuat garis kontur dengan bentuk atau model berbentuk lingkaran, disetiap garis kontur yang dibuat diletakkan angka dari titik ketinggian yang ditentukan. Kemudian diberi titik pada satu lingkaran yang diberi tanda A, B dan C. Ketiga titik tersebut diukur jaraknya yaitu jarak titik  B sampai titik C dengan hasil 2,3 cm dan jarak titik B sampai titik A  adalah 1,6 cm, kemudian dihitung titik A yang tidak diketahui nilainya. Dengan memakai rumus yaitu :
Dengan titik A = B  K
       Dan didapat dari titik A adalah 767,61 mdpl. jika nilai dari titik A tidak mencapai ketingian yang ditentukan, maka untuk menentukannya harus dijumlahkan dan jarak melebihi dari titik ketinggian yang ditentukan maka dikurangi.
Interpolasi adalah untuk mencari nilai titik yang belum diketahui nilainya. Untuk mencari titik kontur terlebih dahulu harus menentukan garis ontur yang ada dipeta RBI. Berdasarkan ketinggian 584 sampai 785 mdpl, maka dibuat layout interpolasi titik kontur. Untuk menentukan titik kontur maka maka dicari titik A dengan mengguna rumus A = B  K. setelah dicari maka di dapat nilai A = 767,61 mdpl


Mencari kemiringan lereng
       Lereng merupakan kenampakan permukaan alam disebabkan adanya beda tinggi apabila beda dua tempat tersebut dibandingkan dengan jarak lurus mendatar sehingga akan diperoleh besarnya kelerengan.
Untuk mencari suatu kemiringan lereng suatu daerah dapat menggunakan rumus :
Jadi pertama mencari  beda tinggi, beda tinggi didapat pada jarak A ke B pada peta yang diukur yaitu 1,6. Kemudian mencari jarak lapangan dengan rumus jarak lapangan = jarak A ke B × Skala. Jadi kemiringan lereng yang didapat pada peta RBI adalah 0,2 %, jadi termasuk pada kelas I pada kemiringan lereng.
VI.        Kesimpulan dan Saran
a.       Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.         Garis kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang    mempunyai ketinggian yang sama.
2.         Interval kontur peta RBI daerah Lemito dengan skala 1 : 50.000 adalah 25 m.
3.          Interpolasi titik kontur adalah cara penarikan kontur dengan memperkirakan antara besar nilai titik ketinggian yang ada dengan besarnya nilai kontur yang ditarik.
4.         Tinggi interpolasi titik A pada peta RBI daerah Lemito dengan skala 1 : 50.000 adalah 767,61 mdpl.
b.      Saran
        Adapun saran, yang  dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi para pembaca khususnya pada pengetahuan tentang Interpolasi titik kontur dan kemiringan lereng. Adapun Dalam penulisan Laooran ini penulis menyadari masih banyaknya kesalahan maupun kekurangan sehingganya bagi para pembaca agar kiranya dapat memberikan kritikan maupun menyumbangkan ide-ide baru yang dapat meyempurnakan Laporan selanjutnya.






















Daftar Pustaka
Anonim. 2011. Interpolasi Titik Kontur. http://Community. gunadarma.ac.id/blog/view/id_1335/title_kontur_dalam_ilmu_ukur_tanah/26 desember 2011
Subagio. 2003. Pengetahuan Peta. Bandung: ITB
Tim Penyusun. 2009. Modul Praktikum Kartografi. Gorontalo: UNG
Yusuf, Daud. 2010. Bahan Ajar Mata Kuliah Kartografi. Gorontalo : UNG.2010
Anonim Pengertian Peta 2011.http//www.Bakosoltana.go.id/Petatematik.
                              26 Desember 2011.
Sune, Nawir. 2011. Modul Praktikum Kartografi. Gorontalo. UNG. 2011